DPRD Kaltim Batasi Kegiatan Hotel, Prioritaskan Penggunaan Fasilitas Milik Daerah
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud
POSKOTAKALTIMNEWS,
SAMARINDA: Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memberikan dampak terhadap
aktivitas ekonomi lokal, salah satunya di sektor perhotelan.
Diketahui, tingkat hunian hotel di sejumlah
kota mengalami penurunan sejak awal tahun, yang diduga berkaitan dengan
berkurangnya kegiatan pemerintahan yang biasa dilakukan di hotel.
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud,
mengatakan bahwa langkah penghematan ini merupakan respons atas menurunnya
nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 yang diperkirakan
turun sekitar Rp3 triliun dari tahun sebelumnya.
“Beberapa kegiatan yang biasanya digelar di
hotel sekarang dialihkan ke fasilitas milik pemerintah, seperti Odah Lamin dan
Odah Etam. Ini salah satu bentuk efisiensi belanja,” ujarnya di Kantor Gubernur
Kaltim, usai menghadiri Musrenbang, Senin (5/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi tidak
hanya menyasar lokasi kegiatan, tetapi juga menyangkut perjalanan dinas anggota
DPRD. Jumlah staf yang mengikuti kunjungan kerja dikurangi, dan sebagian besar
agenda luar daerah dipindahkan ke wilayah dalam provinsi.
“Efisiensi ini totalnya sekitar Rp700 miliar.
Jadi bukan hanya soal hotel, tapi menyeluruh. Kita juga mengurangi perjalanan
luar daerah,” ungkapnya.
Hasanuddin menilai langkah ini sejalan dengan
arahan efisiensi nasional serta pertimbangan kondisi ekonomi global.
Ketidakpastian pasar dunia, konflik geopolitik, serta kebijakan ekspor negara
lain disebut turut memengaruhi perencanaan fiskal daerah.
“Kondisi global memang tidak stabil. Harga
komoditas seperti batu bara dan CPO yang selama ini jadi andalan juga mulai
fluktuatif. Ini jadi alasan kenapa kita harus hati-hati dalam penggunaan
anggaran,” katanya.
Meski mendukung efisiensi, Hasanuddin
menyarankan agar pemangkasan anggaran kegiatan tidak dilakukan secara
menyeluruh. Ia menilai sebagian kegiatan tetap perlu dilaksanakan agar sektor
terkait, seperti perhotelan, tidak terdampak terlalu berat.
Ia menambahkan, meskipun APBD mengalami
penyesuaian, pemerintah daerah tetap berupaya menjaga kestabilan pendapatan
asli daerah (PAD). Hasanuddin berharap situasi ini bersifat sementara dan dapat
membaik dalam waktu dekat.
“Yang jelas ini penyesuaian sementara. Kita
berharap tahun depan kondisi fiskal kembali stabil,” tutupnya. (ADV)